tulisan dan terbitan orang pelosok

Orang Kota Coy

Berat juga bawaannya, bawa apel modal ngapel

Aku baru tahu keberadaanku sebagai ORANG KOTA ketika pulang sejenak 12 tahun lalu, tepatnya tahun 1999.

Waktu itu saya dan Hery nekad pulang walau hanya bermodal pas-pasan. Bersama Lambelu, kamipun berlayar. Di dalam kapal kami bertemu kawan-kawan sedaerah, Fitriani Langkun, Dedy Ferdinan Mokodompit, orang tuanya Dedy, Ramlah Makalalag alias Lala’, Ebi Lauma (Kak Ebi) dan seorang Enci’ temannya Lala yang aku sudah lupa namanya.

Saat turun dari kapal, Ferdinand dan keluarga serta Fitri sudah bilang mereka akan mampir dulu ke Manado.

“Mama, Dedy dengan Fitri mampir dulu di Manado. Kalian terus saja ke Kota yach,  titi dj,” kata Ibunya Ferdinan.

Sementara kawannya Lala’ sudah mengambil jalur lain. Sehingga tertinggallah aku, Hery, Kak Ebi, dan Lala’.

Seperti layaknya di pelabuhan, kamipun langsung dikerumuni calo.

“Kalian mo ke Kota? Pakai saja mobil saya, harga bisa nego,” kata mereka

"Kalian mo ke KOTA? Naik mobil saya saja yang ada di sana,"

kurang lebih sama.

“Maaf, sudah ada mobil langganan kami,” kata Lala sambil terus menenteng bawaan yang lumayan banyak.

Tiba-tiba ada calo lain yang datang dan memakai bahasa Mongondow ke kami.

“Coba lihat, ORANG KOTA sudah pakai bahasa mereka,” kata calo yang lain nampak iri karena mungkin belum mandi, hihihi.

Aku sempat mendengar perkataan yang lain lagi. “Dari pada baku urus deng ORANG KOTA, lebe bae bacarijo orang Gorontalo, Minahasa atau Manado”. Arti harfianya, “Dari pada mengurusi ORANG KOTA lebih baik cari saja orang Gorontalo, Minahasa atau Manado”, maksudnya mereka lebih baik mencari orang yang ke Gorontalo, Minahasa atau Manado saja dibandingkan membujuk kami ORANG KOTA. Orang Kota memang susah dibujuk yach, hahhaha.

Walau si calo sudah memakai bahasa ORANG KOTA namun tetap saja tak bisa. Soalnya kawan yang satu ini sudah punya angkutan yang menjadi langganan. Susahlah nampaknya berpaling ke lain hati, hehehe.

Itu satu kejadian, dikejadian lainnya lebih seru lagi.

Saat balik 2005 dan sudah memantapkan hati untuk tinggal di kampung dan halaman, aku beberapa kali ke Manado. Biasanya aku tinggal di kostan keponakanku, Nanda Dedulla, di jalan Siswa, samping Koni.

Karena Nanda sibuk dengan pekerjaannya di kantor DPRD Sulut, saya yang masih baru tiba di kampung dan halaman pun tak tahan untuk jalan-jalan walau harus sendirian.

"Walau cuma pake ontel gini, tapi ini Kota lho, Neng. Kami ini ORANG KOTA"

Setelah jalan-jalan di deretan mall di Bahu, saya pun ke Jarod (Jalan Roda) tempat ngopi masal sambil membicarakan kondisi perkembangan actual. Jarod sudah memancangkan diri sebagai tempat wisata kuliner, tapi yang aku dengar di sinilah pusat informasi segala hal yang terkait dengan Sulawesi Utara. Di sini juga akan ditemukan berbagai pandangan tentang kondisi itu. Bisa dikatakan di sini tempat ngerumpi, ngegosip, serta diskusi. Berbagai persoalan mulai dari kelas teri sampai kelas paus akan ditemukan di sini.

Saya yang pendatang baru dan belum punya kenalan hanya diam walau berada di tengah badai argumentasi tentang beragam persoalan. Menjadi pendengar setia ternyata asyik juga sampai perjalanan waktupun jadi tak terasa.

Hari sudah sore sekali dan aku bingung bagaimana akan pulang. Andai berada di tengah hutan mungkin ndak masalah. Menurut kepercayaan di kampungku, kalau tersesat di tengah hutan maka cukup mengambil kayu dan dilangkahi—Insya Allah jalan pulang akan terbuka dengan sendirinya. Namun, ini di Manado, man!

Akupun memberanikan bertanya pada seorang ibu-ibu. Dan yang membuatku enggan bertanya itu pun muncul.

“Oh baru skarang datang ke Manado?”

Aku mengangguk saja untuk mendapatkan penjelasannya. Dan ibu-ibu inipun mengemukakan rute pulang.

“Eh, biar ley ORANG KOTA tapi jaga turun kua’ di Manado supaya ndak mo ilang dijalang,” katanya lagi yang artinya, “biarlah ORANG KOTA tapi sering-seringlah turun ke Manado agar tak hilang di jalan.”

"Cihui, kami ORANG KOTA COY..."

Seharusnya perkataan ibu-ibu ini menyinggung perasaan, tapi aku senang.

Cihuy, kami ORANG KOTA!!!

Apa pun itu, kami tetap ORANG KOTA, man, hahaha…

Belum percaya juga kami ini ORANG KOTA? Datanglah ke daerah kami, mau lewat Manado, Bitung, Gorontalo, semuanya sama. Yang pasti, semua akan bertanya: ANDA MAU KE KOTA?

Leave a Reply